Pages

Tuesday, January 24, 2017

Ikhlas الاخلاص

Tiga Ciri Orang Ikhlas

الاخلاص

Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.

Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu(yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/05/03/582/tiga-ciri-orang-ikhlas/#ixzz4We1Rw2qA 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Buruknya Riya

Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?'” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/05/03/582/tiga-ciri-orang-ikhlas/#ixzz4We13Tabc 

Friday, November 11, 2016

Dzikir dan Keutamaannya

Makna Dzikir

Setiap muslim pasti sudah mengetahui dan memahami bahwa dzikir itu merupakan sesuatu yang sangat penting dan besar faedahnya, dimana dzikir merupakan amal yang efektif yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya di surat Al-Ahzab: 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang hari”.

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk banyak bedzikir kepada-Nya; karena pada hakikatnya seorang hamba memang sangat perlu berdzikir mengingat Allah. Bahkan merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Ada sebuah perumpamaan bagi orang yang selalu berdzikir seperti orang yang dikejar musuh dan ia bersegera berlindung di sebuah benteng yang kokoh, sehingga berhasil menyelamatkan diri dari ancaman musuh. Orang yang selalu berdzikir insya Allah aman dari gangguan syetan dan dijaga dari mengikuti hawa nafsu yang tidak baik, bukankah ia berada dibenteng yang kokoh yaitu penjagaan Allah SWT.

Pengertian dzikir bisa berarti mengingat Allah SWT dengan banyak menyebut nama-Nya, baik secara lisan maupun di dalam hati. Seperti banyak menyebut Subhanallah wabi hamdihi subhanallah al ‘azim

Dua kalimat diatas seperti yang disabdakan Rasulullah saw merupakan kalimat yang ringan di ucapkan oleh lisan tapi sangat berat timbangan dan sangat dicintai oleh Allah. Sebagaimana Nabi bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ فِي الِّلسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ مَحْبُوْبَتَانِ إِلىَ الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ

“Dua kalimat yang begitu ringan diucapkan lisan dan sangat berat ditimbangan serta dangat disukai oleh Allah SWT yang Maha Pengasih, adalah Subhanallah wabihamdihi subhanallah hil adzim”.

Dan berdzikir juga bisa berarti mengingat Allah dalam berbagai keadaan, bagaimanapun keadaannya ia tetap mengingat Allah. Ia selalu merasa dilihat dan diawasi segala gerak geriknya oleh Allah. Sehingga dimanapun berada ia tidak berani melakukan hal yang dilarang oleh Allah. Contoh : Puasa, ketika kita berpuasa kita menahan lapar dan haus serta menahan dari perkataan dan perbuatan yang tidak baik. Hal ini kita lakukan setiap hari sampai satu hulan di bulan romadhan. Puasa melatih pikiran dan hati kita untuk memahami bahwa Allah mengetahui segala perbuatan yang kita lakukan. Dengan demikian kita tidak berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Inilah makna dzikir kepada Allah .

Allah SWT berfirman :

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلىَ جُنُوْبٍهٍمْ

“(Yaitu) Mereka yang berdzikir (mengingat) kepada Allah saat berdiri, duduk dan saat berbaring”. (Ali Imron :

Hakikat Dzikir

Dzikir dan seluruh amal shalih sangat erat kaitannya dengan ketenangan bathin. Dan ketenangan bathin itu sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan hidup. Seorang salafushalih yang tinggal sendirian di tengah padang pasir pernah ditanya, “Apakah engkau tidak merasa terancam? Ia mengatakan, “Apakah ada orang yang merasa terancam dan khawatir bersama Allah?” jawabnya. Tak jauh maknanya dengan apa yang diungkapkan oleh Muslim bin Yasar, yang mengatakan, “Tak ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan sendiri menghadap Allah dalam sepi (berkhalwat).”

Rumah orang yang melakukan dzikrullah akan bercahaya bak bintang. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menyampaikan sabda Rasulullah saw bahwa Allah akan menerangi rumah orang yang berdzikir hingga rumah itu akan terllihat oleh penduduk langit. “Sesungguhnya penghuni langit melihat rumah-rumah ahli dzikir yang diterangi oleh dzikir mereka. Sinar itu bercahaya seperti bintang bagi penduduk bumi,” ucap Rasulullah saw. Tepatlah jawaban imam Hasan al Bashri saat ditanya seorang pemuda, “Kenapa orang yang gemar melakukan shalat tahajjud wajahnya enak dipandang?” Ia mengatakan, “Bagaimana tidak, mereka telah berkhalwat dengan yang Maha Pengasih kemudian Allah pasti memberikan cahaya-Nya pada orang tersebut.”

Lihatlah betapa ketenangan yang dirasakan oleh Abu Bakar bin Ayash, salah seorang tokoh Tabi’in. Ketika menjelang maut, ia berkata pada anaknya, “Apakah engkau mengira Allah akan menyia-nyiakan ayahmu yang selama empat puluh tahun sudah mengkhatamkan Al Qur`an hampir setiap malam?” Sementara itu, Adam bin Iyas, tokoh Tabi’in yang lain, ketika akan meninggal mengatakan, “Dengan cintaku kepada-Mu, Engkau pasti menemaniku pada saat ketakutan.” Ia mengucapkan, “Laaa ilaaha illa Llah…” kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir….

Sebaik-baik perbuatan yang dapat dilakukan seseorang dalam nafas hidupnya, paling bermanfaat waktu yang diluangkan adalah berdzikir kepada Allah SWT, apalagi di iringi dengan berdoa kepada-Nya, karena yang demikianlah hidup menjadi bermakna dan waktu menjadi berharga, jiwa yang kian hari beretambah menjadi berbobot, bahkan memiliki aspek kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dan kelapangan dalam setiap gerak dan aktivisnya, dzikir merupakan kunci segala kebaikan hamba didunia dan diakhirat.

Tidak dipungkiri bahwa Nabi saw sebagai pemberi nasehat umatnya, memberikan warisan yang baik seperti mahajjah baidla(kuda putih) yang cemerlang, jalan yang jelas dalam menuntun pengikutnya untuk berdzikir dan berdoa, menuntun segala kebaikan di dunia dan akhirat, tidak ada yang baik kecuali beliau telah memberikan dalil (petunjuk) nya, memotivasi untuk bermulazamah dengannya. Allah berfirman :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّم حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri, sangat belas kasih terhadap penderitaan kalian, bersemangat atas kalian untuk beriman, pemaaf dan kasih sayang”. (At-taubah : 128)

هُوُ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّيْنَ رَسُوْلاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِهِ وَيُرَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَقِيْ ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ

“Dialah (Allah) yang telah mengutus ditengah umat yang ummi seorang Rasul dari kalian, membacakan kepada kalian ayat-ayat-Nya, membersihkan jiwa kalian dan mengajarkan kitab dan hikmah, padahal sebelumnya mereka sebelumnya dalam keadaan sesat yang nyata”. (Al-Jumu’ah : 2)

Perintah kewajiban berdzikir

Dzikir merupakan kewajiban hamba kepada Allah SWT, karena dengan berdzikir seorang hamba akan selalu ingat Allah dan kewajiban yang harus dijalankan dari mengingat Allah. Sebgaimana berdzikir juga merupakan kewajiban karena dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan bagaimanapun keadaannya, dzikir merupakan ibadah yang mudah dilakukan tidak memiliki syarat yang berat seperti amal ibadah yang lainnya. Adaun diantara dalil kewajiban berdzikir adalah beberapa firman Allah berikut ini :

Allah berfirman :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu” (Al-Baqoroh : 152)

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

“Dan sungguh dzikir kepada Allah adalah lebih besar (pahala dan manfaatnya)”. (Al-Ankabut : 45)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.

“Wahai orang-orang yang beriman berdzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang banyak dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”. (Al-Ahzab : 41-42)

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Dan orang-orang yang berdzikir laki-laki dan berdzikir dari wanita maka Allah siapkan bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar”.(Al-Ahzab : 35)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan banyak dan bertasbihlah pada waktu pagi dan petang”. (Ali Imron : 41)

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

“Mereka yang berdzikir kepada Allah pada saat berdiri, duduk dan berbaring”. (Ali Imron : 191)

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

“Maka jika kalian telah selesai menunaikan ibadah kalian maka berdzikirlah kepada Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang tua kalian (sebelumnya) atau lebih banyak dzikirnya (dari mereka)”. (Al-Baqoroh : 200)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah harta dan anak-anak kamu membuat kamu lalai dari berdzikir kepada Allah”. (Al-Munafiqun : 9)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya ucapan-ucapan yang baik itu akan naik dan perbuatan shalih akan meninggikan derajatnya”. (Fathir : 10)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dalam diri kamu dengan penuh ketundukan dan rasa takut dan tanpa dikeraskan dari ucapan (tersebut) pada saat pagi dan petang dan janganlah kemu menjadi orang yang lalai”. (Al-A’raf : 205)

Pembagian Dzikir

Orang-orang mempunyai bashiroh (mata hati) mengetahui bahwa dzikir merupakan amalan paling utama. Akan tetapi dzikir juga mempunyai empat lapisan kulit. Ada kulit yang lebih dekat dengan biji daripada kulit yang lain, karena dibalik kulit-kulit itu ada biji (intisari). Kulit-kulit itu dimuliakan karena merupakan jalan menuju biji. Lapisankulit teratas (pertama) adalah dzikir lisansaja. Yang kedua adalah dzikir hati. Bila ia selaras dengan dzikir lisan, maka ia akan hadir bersama dzikir. Bila hati dibiarkan bersama karakternya, niscaya ia berkeliaran melayang-layang di alam fikiran (lamunan). Lapisan ketiga, dzikir harus bisa menguasai hati, sehingga perlu memaksanya agar tidak beralih kepada lainnya sebagaimana pada lapisan kedua diperlukan adanya pemaksaan hati agar dzikir tetap bersamanya. Lapisankeempat adalah esensi dzikir, yaitu bila Allah menjadi objek dzikir betul-betul tertanam kuat di dalam hati. Bahkan dzikir itu sendiri sirna dan tersembunyi. Itulah esensi dzikir yang dimaksud. Hal itu disebabkan ia tidak lagi memperhatikan dzikir maupun hati akan tetapi ia hanya mengingat Allah yang disebutnya. Bila dalam kondisi ini masih terdapat indikasi adanya perhatian terhadap dzikir, maka sebenarnya hal itu justru merupakan hijab yang menyibukkan. (40 prinsip agama-sepuluh prinspi dasar amal-amal lahiriyah, Imam Al-Ghazali, hal 70)

Dzikir mencakup tujuan hidup sebenarnya, tujuan yang tinggi, yang memiliki kebaikan, manfaat, berkah, faedah yang banyak dan nilai positif yang tidak mungkin disepelekan atau disia-siakan begitu saja. Yang berjalan diatasnya akan mendapatkan ketenangan, keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan, berbeda dengan dzikir dan doa yang dibuat-buat oleh orang lain, kadang terkandung didalamnya beban, pertentangan, bid’ah atau syirik dan lain-lainnya dari kesalahan dan kesesatan yang dilakukan oleh orang yang tidak memberikan hidayah untuk kehidupan manusia, bisa saja dzikir tersebut benar namun dzikir yang ma’tsur seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw lebih baik, lebih lurus dan lebih sempurna, apalagi bagi pelakunya akan mendapatkan ganjaran yang besar, meraih kebaikan yang berlimpah, dan mendappatkan keutamaan yang beragam; didunia dan diakhirat. Maka dari itu,barangsiapa yang rajin membaca dzikir dan doa pada waktu-waktu dan keadaan yang berbeda sesuai dengan arahan dan ajaran dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah saw; saat dipenghujung waktu shalat, waktu pagi dan sore, saat akan tidur dan setelah bangun dari tidur, saat akan pergi dan keluar dari rumah dan lain sebagainya maka akan ditulis oleh Allah sebagai ahli dzikir yang banyak kepada Allah dan akan diberikan ganjaran yang terbaik dan ampunan dari Allah SWT.

Adab-adab dzikir :

Dilakukan dengan penuh khusu’ dan khidmat.Hendaknya menggunakan bacaan yang ma’tsur baik ayat ataupun hadits nabi saw.Tidak dilakukan dengan tergesa-gesa dan cepat.Sebaiknya dalam keadaan (bersuci) berwudluMemulai dengan tahmid, tasbih dan tahlil kemudian shalawat nabi.Dilakukan dengan suara yang tidak keras dan tidak terlalu pelan.

Keutamaan berdzikir

Dzikir merupakan perbuatan yang sangat penting dalam kehidupan insan. Dengannya justru kehidupan insan akan lebih bermakna dan tidak sia-sia, dzikir akan dapat melanggengkannya untuk selalu taat kepada Allah, merasa selalu diawasi dan selalu berada dalam naungan-Nya. Sebagaimana dzikir juga akan memberikan ketenangan dan ketentraman hati dan jiwa kita, serta akan memberikan keselamatan hidup kita baik di dunia dan diakhirat.

Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28 :

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

            “Ketahuilah bahwasanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram”

Adapun keutamaan dzikir adalah sebagai berikut :

Orang yang berdzikir hatinya selalu hidup

عَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مِثْلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ » . متفق عليه .

وَلَفْظُ مُسْلِمٍ : « مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يَذْكُرُ اللهَ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لاَ يَذْكُرُ اللهَ فِيْهِ مِثْلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ » . رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Musa Al- Asy’ari ra berkata : Nabi saw bersabda : Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati”.(Muttafaqun alaih)

Dan dalam lafadz riwayat imam Muslim : “Perumpaan rumah yang didalamnya berdzikir kepada Allah dan rumah yang didalamnya tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang hidup dan orang yang mati”.

Orang yang berdzikir akan mendapat naungan dan rahmat dari Allah

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : « لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ » . رواه مسلم

Dan dari Au Hurairah ra dan Abu Said ra keduanya menyaksikan bahwa Nabi saw telah bersabda : “Tidaklah duduk suatu kaum yang berdzikir kepada Allah kecuali para malaikat mengelillingi mereka, rahmat meliputi mereka dan turun ketegnanan atas mereka, dan Allah akan selalu menyebutnya pada siapa yang ada disisi-Nya”. (HR. Muslim)

Orang yang berdzikir menjadi orang yang istimewa disisi Allah

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيْرُ فِي طَرِيْقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جَمْدَان فَقَالَ : سِيْرُوا هَذَا جَمْدَان ، سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ. قَالُوْا : وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ » . رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra berkata : Saat Rasulullah saw berjalan disuatu simpang kota Makkah lewatlah sekelompok orang yang dinamakan jamdan, beliau bersabda : “Berjalanlah wahai Jamdan, telah berlalu Al-Mufarridun”. Mereka bertanya : Apa yang anda maksud dengan al-Muafarridun wahai Rasulullah ? beliau bersabda : “Mereka yang selalu berdzikir kepada Allah dengan banyak baik laki-laki dan perempuan”. (HR. Muslim)

Allah akan kabulkan segala permohonan

وَعَنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ للهِ مَلاَئِكَةٌ ، يَطُوْفُوْنَ فِي الطَّرُقِ يَلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَنَادُوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، قَالَ : فَيَحْفَوْنَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، قَالَ : فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ : مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ وَيَحْمَدُوْنَكَ وَيُمَجِّدُوْنَكَ ، قَالَ : فَيَقُوْلُ عَزَّ وَجَلَّ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ ، قَالَ : فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأَوْكَ كَانُوْا أَشَدُّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدُّ لَكَ تَمْجِيْدًا ، وَأَكْثَرُ لَكَ تَسْبِيْحًا ، قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَمَا يَسْأَلُوْنِي ؟ قَالَ : يَسْأَلُوْنَكَ الْجَنَّةَ ، قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبُّ مَا رَأَوْهَا ، قَالَ : يَقُوْلُ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : كَانُوْا أَشَدُّ عَلَيْهَا حِرْصًا ، وَأَشَدُّ لَهَا طَلَبًا ، وَأَعْظَمُ فِيْهَا رَغْبَةً ، قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُوْنَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : مِنَ النَّارِ ، قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا ، قَالَ : يَقُوْلُ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : كَانُوْا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا ، وَأَشَدُّ لَهَا مَخَافَةً ، قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ . قَالَ : يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ : فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ : فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : هُمُ الْجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ » . رواه البخاري ومسلم

Dan dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda : “Bahwa memiliki malaikat yang selalu berkeliling dijalan-jalan mencari orang yang berdzikir, jika mereka mendapati kaum yang sedang berdzikir kepada Allah maka mereka menyeru : Marilah kemari sampaikan kebutuhan kalian, dia berkata : kemudia mereka pergi dengan sayap mereka menuju langit dunia, beliau berkata : mereka meminta kepada Tuhan mereka, dan Allah lebih mengetahui dari mereka bertanya : Apa yang dilakukan hamba-hamba-Ku ? mereka berkata : mereka sedang bertasbih, bertakbir, bertahmid dan memuji-Mu, Nabi berkata : sekiranya mereka meliahtmu pasti mereka akan lebih giat lagi beribadah dan memuji-Mu, akan lebih benyak bertasbih, beliau berkata : Allah bertanya : Apa yang mereka minta ? mereka menjawab : mereka meminta kepada-Mu surga. Beliau berkata : Allah berkata : Apakah mereka telah melihatnya ?Beliau berkata : mereka berkata : Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak melihatnya, beliau berkata : Allah berkata : bagaimana sekiranya mereka melihatnya ? beliau berkata : mereka berkata : pasti mereka lebih semangat melakukan dan memintanya, dan besar keinginan untuk menggapainya, beliau berkata : lalu terhadap apa mereka memohon perlindungan ? beliau berkata : mereka berkata : dari api neraka, beliau berkata : Allah berkata : Apakah mereka melihatanya ? beliau berkata : mereka menjawab : tidak demi Alalh wahai Tuahn mereka tiedak pernah melihatnya, baliau bersabda : Allah berkata : bagaimana sekiranya mereka melihatnya ? Beliau bersabda : mereka menjawab : mereka pasti akan cepat lari dan lebih takut, beliau bersabda : Allah berkata : Maka saksikanlah sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka. Beliau bersabda : salah dari para malaikat berkata : diantara mereka ada Fulan bukan dari mereka, mereka hadir karena suatu kebutuhan, beliau bersabda : Allah berkata : Mereka ikut duduk dengan mereka dan tidak akan celaka mereka yang duduk diantara mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Amalan yang dapat meneguhkan jiwa dan diri

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : « أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ . قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رُطَبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ » . رواه الترمذي وابن ماجه. )أتشبث به : أي أستمسك به (.

Dari Abdullah bin basar ra : bahwa seseorang berkata kepada Rasul, wahai Rasulullah ! sesunggunya syariat Islam telah banyak atasku, beritahukan kepadaku apa yang harus saya pegang teguh dengannya. Beliau bersabda : “Hendaknya lisanmu selalu basah dari berdzikir kepada Allah”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Allah membanggakannya dihadapan para malaikat

وَعَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « خَرَجَ مُعَاوِيَةٌ عَلَى حَلَقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ : مَا أْجْلَسَكُمْ ؟ قَالُوا : جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ . قَالَ : آللهُ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ ؟ قَالُوا : وَاللهِ مَا أَجْلَسْنَا إِلاَّ ذَاكَ ، قَالَ : أَمَّا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفَكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ ، وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلُّ عَنْهُ حَدِيْثًا مِنِّي ، وَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلَقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ : ” مَا أَجْلَسَكُمْ ؟ قَالُوا : جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلاَمِ وَمَنْ بِهِ عَلَيْنَا . فَقَالَ : آللهُ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ ؟ قَالُوْا : وَاللهِ مَا أَجْلَسْنَا إِلاَّ ذَاكَ ، قَالَ : أَمَّا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفُكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ ، وَلَكِنَّهٌ أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلاَئِكَةَ » . رواه مسلم. قَوْلُهُ : ” تُهْمَةً لَكُمْ ” أَيْ : شَكًّا فِي صِدْقِكُمْ.

Dari abu Sa’id Al-Khudriyyi ra berkata : suatu ketika Muawiyah keluar menuju halaqah yang ada didaam masjid, dia berkata : Apa yang kalian duduk disini ? mereka berkata : kami duduk berdzikir kepada Allah. Dia berkata : Apakah hanya Allah yang membuat kalian duduk bukan yang lainnya ? mereka berkata : Demi Allah tidak ada tujuan lain kami duduk kecuali itu. Dia berkata : saya tidak pernah menuduh kalian, tidaklah salah seorang berada ditempat Rasulullah saw lebih sedikit mendapatkan hadits dariku, dan ketika Rasulullah saw keluar menuju halaqah para sahabat, beliau berkata : Apa yang kalian lakukan duduk disini ? Kami duduk berdzikir kepada Allah, memuji Allah atas hidayah yang telah diberikan kepada kami dan seseorang yang dengannya kami mendapat hidayah. Beliau berkata : Apakah karena Allah kalian duduk bukan yang lain ? mereka berkata : demi Allah kami duduk karena Allah bukan yang karena yang lain, beliau berkata : Saya tidak menuduh kalian yang bukan-bukan, namun telah datang kepadaku Jibril dan mengabarkan kepadaku bahwa Allah membanggakan kedudukan kalian ditengah para malaikat” (HR. Muslim) beliau berkata : tuduhan maksudnya adalah ragu akan ucapan kalian.

Allah akan mengingat melebihi orang yang mengingat-Nya

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٌ مِنْهُ » . رواه البخاري ومسلم.

Dari abu Hurairah ra berkata : nabi saw bersabda ; Allah SWT berfirman : “Saya berada menurut dugaan hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika berdzikir kepada-Ku, jika dia berdzikir dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika dia berdzikir didalam sekelompok orang maka Aku akan mengingatnya disekelompok yang lebih baik dari mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibadah yang paling baik, paling suci dan paling tinggi derajatnya disisi Allah.

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ ، وَأَرْفَعَهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرَقِ ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تُلْقُوا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ ؟ قَالُوا : بَلَى ، قَالَ : ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى » . رواه الترمذي وابن ماجه. الْوَرَقُ : الْفِضَّةُ .

Dari Abu Darda ra berkata : Rasulullah bersabda : “Maukah aku beritahukan sebaik-baik perbuatan, lebih bersih dan suci dihapan Tuhan kalian dan labih tinggi derajatnya, dan lebih baik dari berinfaq dengan emas dan perak, bahkan lebih baik dari kalian berjumpa dengan musuh lalu kalian penggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian (syahid) ? mereka berkata : Tentu, Nabi bersabda : Dzikir kepada Allah”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sumber:
http://www.al-intima.com/madah/dzikir-dan-keutamaannya

Monday, April 27, 2015

Tentang Mendidik Anak

Senin, 27 April 2015

Assalamu'alaykum wr. wb.
Berjumpa lagi dengan saya...semoga tidak bosan...

Sore ini saya akan mengangkat tema tentang Mendidik Anak.
Hal ini tidak terlepas dari hasil pengamatan saya terhadap lingkungan sekitar.

Saudaraku...
Ibadah apakah yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak?
SHOLAT.
Ya, Saudaraku, sholat.

Kebetulan hari ini hari Senin, hari dimana disunnahkan untuk berpuasa. Mungkin banyak di antara kita yang sudah terbiasa puasa di hari Senin. Momen berbuka bagi orang yang sedang berpuasa merupakan momen penting yang ditunggu-tunggu. Biasanya sebisa mungkin kita menyiapkan menu-menu spesial untuk berbuka. Momen untuk kumpul-kumpul juga. Terlebih menyegerakan berbuka merupakan salah satu hal yang disunnahkan.
Namun terkadang kita lupa bahwa ada rukun Islam sebelum puasa yang merupakan ibadah yang pertama kali akan dihisab, ya...seperti yang kita bahas di atas, yaitu sholat.
Terkadang (dan ini sering saya lihat) kenikmatan berbuka puasa membuat kita terlena untuk menyegerakan sholat. Bahkan tidak jarang yang menjadikan sunnah menyegerakan bebuka puasa sebagai pemakluman untuk mengulur waktu sholat.
Ah....miris banget. Saya sedih melihatnya.
Jika saya boleh berpendapat, mungkin alangkah lebih baik jika tetap menyegerakan berbuka puasa, namun juga tetap menyegerakan sholat. Apalagi kalau sholat kita berjama'ah di masjid, jika ada yang terlambat, akan sangat mengganggu regulasi yang telah ada. Toh berbuka puasa kan masih bisa dilanjutkan setelah sholat...kenapa tidak disegerakan?

Sunday, April 26, 2015

Tentang Cita-cita (Sebuah Hasil Perenungan Panjang Hari Ini)

Ahad, 26 April 2015

Lama banget gak nulis-nulis lagi. Kesibukan di dunia nyata serasa meyita seluruh perhatian. Dulu, dari SD sampai SMK rajin numpahin uneg-uneg ke diary. Meski terkadang tidak menemukan solusi, seenggaknya beban berkurang. Kini rasanya beban menggunung. Maklum, blogger amatiran. Kalo badan udah sangat capek, udah gak ada lagi power untuk nulis, apalagi buka lappy. Yang ada cakar ayam yang tertuang. Atau kalo gak gitu, lappy yang njagain si empunya tidur.

Ceritanya ini lagi kelaperan. Udah gak ada uang di kantong, di ATM juga tinggal 20 ribu. Mana bisa diambil...
Meski tak ada satu sen pun yang masih nyangkut di kantong, alhamdulillah sudah cukup tenang dan lega karena list kewajiban sudah terchecklist semua.

Seperti biasa, saya selalu menghindari keramaian di dunia nyata. Kalo keramaian dunia maya mah masih mending, gak bikin pusing. Cuma HP aja yang kemudian ngehang seperti sekarang. Jadi ya sekarang udah lengkap, sepi sejati.

Prolog selesai ya :)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Merenung.
Menanyakan kembali pada diriku sendiri : Apa sih sebenarnya yang menjadi cita-citaku?
Kalian pasti tertawa.
Aku pun juga demikian.
Lha wong usia udah melewati seperempat abad kok masih ngomongin cita-cita?
Memang sangat terlambat. Shalahuddin Al ayyubi aja di usia yang jauh lebih muda dariku udah bisa membebaskan Al Quds, Muhammad Al Fatih malah lebih muda juga udah bisa menaklukkan Konstantinopel. Lha aku???
Tak apa lah...gak ada salahnya menanyakan kembali. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan tidak ada kata "terlambat" untuk sesuatu yang baik.

Setelah melewati proses perenungan yang sangat panjang...
Membaca kabar teman-teman yang sungguh telah menorehkan prestasi yang wow...subhanallah sekali...di situ kadang saya merasa pilu dan teriris-iris, serasa ingin menangis guling-guling...
Coba, siapa yang gak pengen seperti mereka?
Ada yang saat ini S2 di Ausie, di Tokyo University, ada yang sempat kuliah di Portugal, menjadi kontributor majalah nasional, menjadi praktisi sesuai keilmuan, akademisi, S3 di Jepang dg beasiswa, pengusaha sukses...dan bahkan ada yang udah sukses dg keilmuannya sekaligus punya usaha, dan udah mau punya dua anak.
Gak WOW gimana coba....
Lha aku di sini masih duduk manis dengan menggalaukan cita-cita. O, Allah...ampuni hamba...

Ada juga yang kerja kantoran, baik instansi swasta maupun pemerintah yang ternama, yang mungkin bagi sebagian orang merupakan prestasi yang patut dibanggakan.
Tapi bukan karir seperti itu yang ada dalam benakku. Menghabiskan sebagian waktu di kantor, pulang pun dalam kondisi yang lelah dan bawaannya pengen istirahat saja. Trus apa gunanya punya keluarga? Mungkin kita akan terpuaskan dengan materi, tapi bukan dengan hati kita sepenuhnya. OK, di awal-awal mungkin gak terasa, tapi dalam waktu yang lama pastiakan terasa efeknya.

Aku hanya ingin dapat memiliki waktu full untuk keluarga. Bukan berarti aku tidak memiliki aktivitas lain selain mengurus keperluan rumah dan seisinya. Masih tetap bisa berpenghasilan kok. Tapi bukan aktivitas yang menyita hampir seluruh waktu kita, bukan aktivitas yang mengikat kita harus bagaimana dan di mana. Aktivitas yang bisa kita atur sendiri. Memiliki usaha yang dapat dijalankan di rumah, sembari mengasah keilmuan lewat tulisan.

Udah Dhuhur....to be continued ya.... ----------------------------------->>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Sunday, December 7, 2014

Orang Sunda Suka Fashion : Benarkah?

Lama sekali rasanya tidak menengok blog amatir saya ini. Tak terasa...1,5 tahun sudah saya berada di Bandung, sebuah kota yang dulu pernah menjadi bagian dari impian saya. Namun sampai saat ini, apa yang sempat menjadi salah satu tujuan saya kala itu : Mematahkan opini orang-orang tentang orang Sunda, belum juga berhasil.
Salah satu opini yang ingin saya patahkan adalah bahwa kata mereka orang Sunda mengutamakan penampilan (fisik). Beberapa waktu saya di sini seringkali mengamati opini terkait gaya hidup ini. Namun, boro-boro bisa mematahkan opini ini, malahan saya merasa tidak nyaman dengan kondisi yang ada ini. Hampir mendekati benar opini tersebut. Sampai dengan saat ini, saya masih melihat, mayoritas orang-orang Sunda sangat memiliki perhatian yang besar dengan penampilan mereka, terutama fashion, di atas dan lebih dulu dari kebutuhan mereka yang lain. Pokoknya pakaian itu gonta-ganti, berwarna-warni pula...tidak seperti layaknya image seorang akhwat pada umumnya. Dan itu sangat bertolak belakang sekali dengan kepribadian saya. Entahlah, apakah apa yang telah saya lihat ini merupakan satu hal yang bisa dijadikan bukti dan penguatan ataukah karena maan itulah adanya....

Monday, June 9, 2014

Nak, Hubungilah Kami Walau Sebentar.

Hidup di negeri rantau memang tak semudah yang dibayangkan. Terpisah dengan keluarga terutama ayah dan bunda bukan suatu yang menyenangkan. Namun, tujuan merantau tiada lain dan tiada bukan adalah untuk membuat mereka bahagia demi berbakti kepada keduanya. Apapun tujuannya, entah untuk bekerja atau untuk menuntut ilmu. Semua tak terlepas dari keinginan untuk membahagiakan mereka, terlebih pada saat mereka masih mengirimi kas bulanan kepada anak tercinta. Adakah keinginan mengecewakan mereka di negeri rantau?
Semua orang tua menginginkan agar anak-anak mereka menjadi anak yang sholih dan sholihah serta bermanfaat bagi orang-orang disekitarya. Mereka menginginkan sebuah perubahan pada prilaku, tidak lagi menjadi seorang anak kecil yang hanya tahu dengan dunia bermain. Tapi, menjadi seorang yang lebih dewasa dalam bertindak maupun berpikir.
Seseorang dapat dikatakan dewasa, apabila dia mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah. Tapi, itu semua tak cukup menjadi penilaian seseorang dikatakan dewasa. Dia dewasa ketika mampu menjadikan dirinya teladan bagi orang-orang disekitarnya dengan berbagai akhlak terpuji yang menghiasi pribadi. Salah satu akhlaq terpuji tersebut adalah berbakti kepada orang tua.
Bagi seorang perantau, berbakti kepada orang tua tak semudah seorang yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Jika orang yang tinggal bersama kedua orang tuanya, setiap saat dan kapanpun dia mampu berbakti kepada keduanya dengan cara berbuat baik langsung kepada mereka. Namun, bagi para perantau, apakah bisa berbuat baik langsung kepada mereka? Padahal, terpisahkan oleh jarak dan tempat yang berbeda?
Inilah salah satu cara termudah untuk berbakti kepada mereka walaupun di negeri rantau. Cara tersebut yakni dengan selalu menyempatkan diri menghubungi mereka walaupun hanya sebentar. Ditengah-tengah kesibukan anak rantau sekiranya masih mampu meluangkan waktu beberapa menit untuk bisa menghubungi ayah dan bunda.
Zaman sekarang teknologi telah mempermudah manusia. Inilah salah satu kebaikan dari teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh setiap insan. Dengan menggunakan handphone dimanapun dan kapanpun berada mampu menghubungkan komunikasi diantara dua orang atau lebih tanpa harus bertatap muka.
Hubungilah mereka walaupun hanya dengan sebaris kata lewat pesan singkat. Beritahukan kabar dan tanyakan kabar mereka. Semoga saja kita yang bertanya dan mereka yang menjawab selalu berada dalam lindungan-Nya dan diberikan kesehatan sehingga akan merasakan kebahagiaan kembali pada saat berjumpa.
Alangkah lebih baik lagi, jika kita merelakan sedikit pulsa yang dimiliki untuk menelpon baik ayah atuapun bunda. Setidaknya, memberitahukan  bahwa  kita sedang dalam kondisi sehat dan baik-baik saja. Lewat telpon, kita bisa mendengarkan kembali suara beliau (ayah atau bunda) yang sudah mulai menua dimakan oleh perputaran waktu.
Mereka hanya ingin mengetahui keadaan kita ketika berada di rantau orang. Ayah dan bunda setiap hari bertanya-tanya, apakah anakku sehat dan baik-baik saja disana?
Dengan menghubungi mereka adalah jawaban yang diharapkan yang terlontar langsung dari anak tercinta.  Jawaban dari kegelisahan dan kegundahan mereka terhadap anak yang telah dididik hingga dewasa yang kini berada jauh dari kampung halaman.
Secara tidak langsung hati mereka berkata-kata.
“Nak, hubungilah kami walau sebentar”
Terkadang, kita sebagai anak yang hidup di negeri rantau, terlena dengan berbagai aktivitas. Sehingga,melupakan orang yang dari kejauhan selalu memikirkan dan mendoakan agar senantiasa berada di dalam lindungan dan nuangan-Nya.
Masihkah kita tak mau berbakti kepada mereka? Walaupun raga ini telah terpisahkan oleh lautan dan pulau-pulau. Tak sadarkah selama ini untaian doa-doa terucap di bibir seorang yang sejak kita lahir hingga sekarang tak pernah meminta sepeser pun untuk mengganti biaya yang telah habis mereka gunakan?
Tak ada alasan untuk tetap berbakti kepada keduanya. Begitu besar pengorbanan dan susah payah mereka membesarkan anak yang kini tidak berada di dekat keduanya.
Apalah yang mereka inginkan disisa-sisa umur yang semakin hari semakin mendekati pada ujung dari kehidupan? Akankah kita berbakti setelah mereka tiada?
Getaran suara yang kita berikan lewat sinyal telpon yang ditangkap oleh telinga mereka, itulah yang diinginkan. Mereka ingin tetap mendengar suara kita walaupun tak bisa menatap langsung dengan sang buah hati.
Kita rela pulsa di handphone habis terbuang hanya untuk mengirimkan pesan kepada orang-orang yang tidak berpengaruh penting terhadap kehidupan atau kita pun mampu membuang pulsa beberapa ribu hanya untuk digunakan menelpon sesama teman. Tapi, mengapa kita tak rela menghabiskan pulsa walau hanya dengan mengirimkan pesan singkat kepada kedua orang tua?
Berbakti tak mengenal tempat dan waktu. Dimanapun dan kapanpun selagi diri ini masih mampu menghirup dan menghembuskan nafas maka bakti kepada orang tua tak akan pernah terlepaskan pada diri seorang insan.
Sampai kapanpun seorang anak tak akan mampu membalas secara penuh segala hal yang telah diberikan oleh orang tua kepada dirinya. Setidaknya, lewat berbakti kepada mereka adalah salah satu jalan untuk membalas kebaikan, pengorbanan dan jerih payah yang mereka berikan kepada kita walaupun hanya sebagian kecil.
Hubungilah mereka selagi kita masih bisa menghubungi mereka. Apa yang bisa diperbuat oleh diri ini jika mereka telah pergi untuk selamanya? Tak sadarkah kita selama ini bahwa mereka menantikan kabar dari jauh walau hanya lewat suara atau kata-kata yang tertulis di dalam pesan singkat?
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS Luqman : 14)

Sumber : http://www.fimadani.com/nak-hubungilah-kami-walau-sebentar/

Sunday, May 25, 2014

MENJEMPUT KEMATIAN

Ada satu kepastian diantara ketidakpastian dalam kehidupan manusia. Dimana secara sadar atau tidak, manusia sesungguhnya menuju kepadanya. Tidak perduli apakah ia siap atau tidak, tua atau muda, cepat atau lambat. Bagi sebagian manusia, ia hanyalah proses alamiah dalam sebuah kehidupan. Menjadi akhir peristirahatan dari segala kegalauan. Bagi sebagian lain ia adalah awal dari sebuah kehidupan. Itulah kematian.

Ibarat sebuah sungai, muaranya merupakan merupakan pintu gerbang samudra. Begitu pula dengan kematian, ia adalah muara bagi pintu gerbang samudra kehidupan yang luas dan kekal. Tiada hal yang membuat Basuki (30) curiga bahwa pada awal November 2002 di Jalan Gatot Subroto, Jakarta lalu merupakan hari terakhirnya merasakan kehidupan setelah sedan yang ditumpanginya ditabrak Panther. Begitu pula dengan seorang jama'ah haji yang pada saat itu sedang menempuh perjalan menuju Madinah. Iapun tidak menyangka bahwa itulah perjalanannya yang terakhir setelah menyelesaikan prosesi haji dan sholat dzuhur hari itu.

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir kehidupannya. Dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya. Sebagaimana ia menjalani kehidupannya seperti itulah kemungkinan besar ia akan menghadapi kematiannya. Karena sesungguhnya dengan menjalani kehidupan berarti kita sedang berjalan menuju kematian kita.

Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata.' (QS. Jum'ah:8).

Orang-orang yang berfikir secara kerdil dan menjatuhkan diri kepada keduniawian akan berlari dengan segala kemampuan yang ada dari kematian. Kematian merupakan momok yang menakutkan yang akan mengambil segala yang telah diusahakan selama hidupnya. Padahal jauh berabad-abad dahulu Rasulullahpun telah mengingakan akan kematian dalam sebuah sabdanya :

Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian). (HR. Tirmidzi)

Sementara manusia-manusia yang cerdas menjadikan kehidupannya bukan hanya sebagai sarana menghadapi dan mempersiapkan kematian namun menjemput kematian melalui seni kematian. Paradigma seni kematian memang masih aneh dalam fikiran masyarakat saat ini. Kematian hanyalah kematian. Bagaimana mungkin sesuatu yang nafsu membenci bertemu dengannya menjadi sesuatu yang jiwa bergairah berjumpa dengannya ? Inilah salah satu ajaran Islam yang agung, mengatur dari hal-hal kecil kehidupan sampai kenegaraan, dari awal memulai kehidupan sampai bagaimana menjemput kematian dalam koridor-Nya.

Bagi orang-orang cerdas ini, kematian adalah panglima nasihat dan guru kehidupan. Sedikit saja ia lengah dari memikirkan kematian maka ia telah kehilangan guru terbaik dalam hidupnya. Inilah yang membuat seorang Sayyid Qutb berkata di tiang gantungan Rezim Pemerintah Gamal Abdun Naser berkata, ''Hiduplah Anda dalam keadaan mulia, atau matilah dalam keadaan mati syahid''.

Seni kematian yang paling indah juga dicontohkan para sahabat dalam membela risalah Islam dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Cukuplah kematian itu sebagai penasehat. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Secerdas-cerdasnya manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang benar-benar cerdas dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat. (HR. Ibnu Majah)

Sekarang adakah dalam hati kita kematian itu sebagai penasihat terbaik kita dan memulai menata hati, jiwa dan raga untuk menjemput kematian dengan seni kematian yang begitu indah dalam Islam. Semoga, selagi masih ada waktu. Wallohu a'alam.