Pages

Monday, April 27, 2015

Tentang Mendidik Anak

Senin, 27 April 2015

Assalamu'alaykum wr. wb.
Berjumpa lagi dengan saya...semoga tidak bosan...

Sore ini saya akan mengangkat tema tentang Mendidik Anak.
Hal ini tidak terlepas dari hasil pengamatan saya terhadap lingkungan sekitar.

Saudaraku...
Ibadah apakah yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak?
SHOLAT.
Ya, Saudaraku, sholat.

Kebetulan hari ini hari Senin, hari dimana disunnahkan untuk berpuasa. Mungkin banyak di antara kita yang sudah terbiasa puasa di hari Senin. Momen berbuka bagi orang yang sedang berpuasa merupakan momen penting yang ditunggu-tunggu. Biasanya sebisa mungkin kita menyiapkan menu-menu spesial untuk berbuka. Momen untuk kumpul-kumpul juga. Terlebih menyegerakan berbuka merupakan salah satu hal yang disunnahkan.
Namun terkadang kita lupa bahwa ada rukun Islam sebelum puasa yang merupakan ibadah yang pertama kali akan dihisab, ya...seperti yang kita bahas di atas, yaitu sholat.
Terkadang (dan ini sering saya lihat) kenikmatan berbuka puasa membuat kita terlena untuk menyegerakan sholat. Bahkan tidak jarang yang menjadikan sunnah menyegerakan bebuka puasa sebagai pemakluman untuk mengulur waktu sholat.
Ah....miris banget. Saya sedih melihatnya.
Jika saya boleh berpendapat, mungkin alangkah lebih baik jika tetap menyegerakan berbuka puasa, namun juga tetap menyegerakan sholat. Apalagi kalau sholat kita berjama'ah di masjid, jika ada yang terlambat, akan sangat mengganggu regulasi yang telah ada. Toh berbuka puasa kan masih bisa dilanjutkan setelah sholat...kenapa tidak disegerakan?

Sunday, April 26, 2015

Tentang Cita-cita (Sebuah Hasil Perenungan Panjang Hari Ini)

Ahad, 26 April 2015

Lama banget gak nulis-nulis lagi. Kesibukan di dunia nyata serasa meyita seluruh perhatian. Dulu, dari SD sampai SMK rajin numpahin uneg-uneg ke diary. Meski terkadang tidak menemukan solusi, seenggaknya beban berkurang. Kini rasanya beban menggunung. Maklum, blogger amatiran. Kalo badan udah sangat capek, udah gak ada lagi power untuk nulis, apalagi buka lappy. Yang ada cakar ayam yang tertuang. Atau kalo gak gitu, lappy yang njagain si empunya tidur.

Ceritanya ini lagi kelaperan. Udah gak ada uang di kantong, di ATM juga tinggal 20 ribu. Mana bisa diambil...
Meski tak ada satu sen pun yang masih nyangkut di kantong, alhamdulillah sudah cukup tenang dan lega karena list kewajiban sudah terchecklist semua.

Seperti biasa, saya selalu menghindari keramaian di dunia nyata. Kalo keramaian dunia maya mah masih mending, gak bikin pusing. Cuma HP aja yang kemudian ngehang seperti sekarang. Jadi ya sekarang udah lengkap, sepi sejati.

Prolog selesai ya :)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Merenung.
Menanyakan kembali pada diriku sendiri : Apa sih sebenarnya yang menjadi cita-citaku?
Kalian pasti tertawa.
Aku pun juga demikian.
Lha wong usia udah melewati seperempat abad kok masih ngomongin cita-cita?
Memang sangat terlambat. Shalahuddin Al ayyubi aja di usia yang jauh lebih muda dariku udah bisa membebaskan Al Quds, Muhammad Al Fatih malah lebih muda juga udah bisa menaklukkan Konstantinopel. Lha aku???
Tak apa lah...gak ada salahnya menanyakan kembali. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan tidak ada kata "terlambat" untuk sesuatu yang baik.

Setelah melewati proses perenungan yang sangat panjang...
Membaca kabar teman-teman yang sungguh telah menorehkan prestasi yang wow...subhanallah sekali...di situ kadang saya merasa pilu dan teriris-iris, serasa ingin menangis guling-guling...
Coba, siapa yang gak pengen seperti mereka?
Ada yang saat ini S2 di Ausie, di Tokyo University, ada yang sempat kuliah di Portugal, menjadi kontributor majalah nasional, menjadi praktisi sesuai keilmuan, akademisi, S3 di Jepang dg beasiswa, pengusaha sukses...dan bahkan ada yang udah sukses dg keilmuannya sekaligus punya usaha, dan udah mau punya dua anak.
Gak WOW gimana coba....
Lha aku di sini masih duduk manis dengan menggalaukan cita-cita. O, Allah...ampuni hamba...

Ada juga yang kerja kantoran, baik instansi swasta maupun pemerintah yang ternama, yang mungkin bagi sebagian orang merupakan prestasi yang patut dibanggakan.
Tapi bukan karir seperti itu yang ada dalam benakku. Menghabiskan sebagian waktu di kantor, pulang pun dalam kondisi yang lelah dan bawaannya pengen istirahat saja. Trus apa gunanya punya keluarga? Mungkin kita akan terpuaskan dengan materi, tapi bukan dengan hati kita sepenuhnya. OK, di awal-awal mungkin gak terasa, tapi dalam waktu yang lama pastiakan terasa efeknya.

Aku hanya ingin dapat memiliki waktu full untuk keluarga. Bukan berarti aku tidak memiliki aktivitas lain selain mengurus keperluan rumah dan seisinya. Masih tetap bisa berpenghasilan kok. Tapi bukan aktivitas yang menyita hampir seluruh waktu kita, bukan aktivitas yang mengikat kita harus bagaimana dan di mana. Aktivitas yang bisa kita atur sendiri. Memiliki usaha yang dapat dijalankan di rumah, sembari mengasah keilmuan lewat tulisan.

Udah Dhuhur....to be continued ya.... ----------------------------------->>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>