Alhamdulillah...mendapatkan ilmu parenting baru. Kelalaian saya kemarin menjadi pelajaran untuk saya ke depannya. Ceritanya begini, kemarin, salah satu anak saya ada yang tidak mau makan karena tidak suka dengan makanan masakan hari itu, kebetulan kemarin masak cap cay. Karena saya takut dia nantinya sakit, maka kemudian saya gorengkan telur. Ternyata apa yang saya lakukan itu salah. Saya baru tersadar ketika hari ini ibu cerita bahwa kemarin salah satu anak ada yang komplain ke ibu. Astaghfirullahal'adziim...maafkan saya ya anak-anak...maafkan saya ya Allah...
Memang, dalam mendidik anak, kita harus adil. Tidak ada yang harus diistimewakan. Jika satu makan tempe, maka yang lain juga harus makan tempe. Tidak ada ceritanya mogok makan karena tidak suka tempe. Namun, jika kasus seperti itu terjadi, apa yang harus kita lakukan? Pertama, sebisa mungkin beri pengertian kepada anak tentang akibat bila kita menuruti keinginannya, yaitu menggelembungkan budget masak, makanan yang sudah dimasak menjadi mubazir dan akan menimbulkan kecemburuan sosial. Kenapa seperti itu? ketika kita menuruti keinginan satu anak, mungkin dana tambahan yang dikeluarkan tidak terlalu banyak, namun jika hal ini sering terjadi, dari dana tambahan yang kecil-kecil itu akan menjadi besar seperti peribahasa "sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit". Selain itu, hal ini akan menimbulkan suatu kecemburuan pada anak-anak yang lain. Mungkin bukan karena makanannya, tetapi anak-anak akan merasa bahwa kita sebagai orang tua sudah memperlakukan mereka secara tidak adil, dan otomatis mereka sebagai anak berhak untuk menuntut keadilan. Hal ini sangat tidak baik untuk pendidikan anak. Seharusnya kita sebagai orang tua bisa menjadi contoh yang baik. Kalau kemudian kita turuti keinginan satu anak itu dengan memberikannya juga kepada yang lain? Maka dana yang kita keluarkan juga bertambah banyak. Kalau hal ini sudah terjadi, tidak perlu lama-lama menunggu bukit itu terbangun, karena dalam sekejap akan ada bukit. So, apa yang bisa kita petik dari kasus tersebut? Sebagai orang tua, adakalanya kita harus lembut namun adakalanya juga tidak. Intinya, harus tegas dan bijak. Tegas dan bijak di sini dalam artian pada tempatnya. Semua itu kita lakukan bukan karena kita tidak mau mengeluarkan banyak dana, bukan. Bukan karena uangnya, tapi semata-mata karena ingin mendidik anak-anak agar mereka bisa menerima keadaan apapun dari hidup ini, agar mereka bisa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan untuk kita hari ini. Kalau mogok makan terus dan benar-benar tidak mau makan bagaimana? apakah kita tidak takut kalau-kalau nanti dia sakit? Ok, kalau memang sudah "menthok" dan tidak ada jalan lain, silahkan turuti keinginannya. Tapi dengan catatan: Pertama, sebisa mungkin jangan sampai diketahui oleh anak-anak yang lain. Kedua, tekankan pada anak tersebut bahwa kita menuruti keinginannya tersebut hanya sekali itu, dan tidak akan ada untuk kedua kalinya. Sampaikan kepadanya bagaimana akibat dari perbuatannya itu dan apa tujuan kenapa semuanya harus sama. Insya Allah dengan niat tulus plus doa, semuanya akan bisa teratasi dengan baik. Harapan kita, semoga anak-anak kita nantinya bisa menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah, menjadi generasi robbani. Aamiin. Masa depan anak-anak kita ada di tangan kita. Anak-anak merupakan cerminan dari orang tuanya. So,jika menginginkan anak kita menjadi anak-anak yang baik, maka mulailah dari diri kita. Ok, good luck buat para orang tua maupun para calon orang tua.
No comments:
Post a Comment