Masih mengenang Kang Aden. Beberapa hari ini
seolah aku disibukkan dengan aktivitas baruku (di samping amanah di tempat
kerja ya...), yaitu membaca blog Kang Aden. Alhamdulillah...kholas...kemaren
sore J hehe...kayak apaaa ajah. Tapi ya memang ada
apanya. Mau tau??? Energi positifnya mengalir seperti air, bergelombang seperti
gelombang radio, dan yang jelas menginspirasi. Yup, meng-ins-pi-ra-si. Plus,
ngakak aku dibuatnya. Ups....maksudnya ngakak di dalam hati. Senyum-senyum
sendiri gitu. Ya Allah...lucu banget sih... jadi ingat pengalaman masa lalu
juga. Banyak pengalaman saya yang serupa.
Kembali ke topik sesuai judul di atas. Jadi
Ceritanya, sepulang sholat isya’ di masjid, saya terserang rasa kantuk yang
luaarrrr biasa. Alhasil, ketika saya sampai di kamar tercinta dan duduk di atas
bed, kesadaran saya dalam sekejap langsung hilang. Zzzzz.....
Aku sedang berada di dalam rumah. Rumah siapa, aku
juga tidak tahu. Masih asing, belum pernah aku jumpai. Di luar sedang hujan
deras. Saaangaaat deras. Beberapa waktu kemudian ada yang menyampaikan ke saya
bahwa ayah saya mencari saya. Beliau berada di luar rumah, menunggu saya. Info
tersebut kutanggapi dengan cuek aja. Males ah...ngapain juga kudu keluar nemuin
itu orang. Waktu pun berlalu, hujan semakin deras. Terlihat ayah saya sampai nglesot
(bhs. Jawa, kira-kira artinya sama dengan duduk di lantai tanpa alas) di teras,
dan sempat tidur di teras juga dengan kondisi hujan yang sangat deras. Saking
derasnya, teras pun basah kuyub. Dan beliau menunggu. Tidak peduli kondisinya
bagaimana, tetap menungguku. Dan aku tidak peduli, bagaimanapun beliau
menungguku, aku tidak peduli. Bagaimanapun orang-orang di sekitarku sudah mulai
cerewet karena kasihan dengan kondisi beliau, aku pun tidak peduli. Oh...betapa
jahatnya aku...
Sayup-sayup kudengar ada suara yang
memanggil-manggil namaku.
“Ustadzah....Ustadzah....”
Kesadaranku pun mulai muncul kembali.
Ah...ternyata aku hanya bermimpi. Namun kenapa rasanya mataku sembab dan hatiku
terasa sedih sekali? Seperti baru menangis sesenggukan. Astaghfirullah...jahat
sekali aku. Alhamdulillah hanya mimpi. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku
sudah mulai mengikhlaskan apa yang pernah terjadi pada hidupku. Dan sepertinya
tidak mungkin aku sejahat itu. Meskipun memendam kekecewaan yang amat dalam
sekalipun, selama ini aku menjawab telepon beliau dengan santun. Meskipun dalam
waktu yang bersamaan hati berkecamuk tidak karuan. Meskipun hanya topeng. Tapi
in sha Allah, mulai saat ini saya bertekad untuk memperbaikinya, untuk
memaafkan semua yang pernah menjadi kesalahan beliau.
Segera saja aku melongok ke jendela. Kulihat
anak-anak di bawah memanggil-manggilku.
“Ustadzah...Ustadzah...”
Oh, ternyata mereka baru selesai rapat OSIS. Jam
menunjukkan baru pukul 22.00 WIB. Aku pun segera ke bawah untuk membukakan
pintu asrama untuk anak-anakku.
No comments:
Post a Comment