Pages

Wednesday, January 8, 2014

Mimpi yang Membuatku Menangis Sesenggukan

Masih mengenang Kang Aden. Beberapa hari ini seolah aku disibukkan dengan aktivitas baruku (di samping amanah di tempat kerja ya...), yaitu membaca blog Kang Aden. Alhamdulillah...kholas...kemaren sore J hehe...kayak apaaa ajah. Tapi ya memang ada apanya. Mau tau??? Energi positifnya mengalir seperti air, bergelombang seperti gelombang radio, dan yang jelas menginspirasi. Yup, meng-ins-pi-ra-si. Plus, ngakak aku dibuatnya. Ups....maksudnya ngakak di dalam hati. Senyum-senyum sendiri gitu. Ya Allah...lucu banget sih... jadi ingat pengalaman masa lalu juga. Banyak pengalaman saya yang serupa.

Kembali ke topik sesuai judul di atas. Jadi Ceritanya, sepulang sholat isya’ di masjid, saya terserang rasa kantuk yang luaarrrr biasa. Alhasil, ketika saya sampai di kamar tercinta dan duduk di atas bed, kesadaran saya dalam sekejap langsung hilang. Zzzzz.....

Aku sedang berada di dalam rumah. Rumah siapa, aku juga tidak tahu. Masih asing, belum pernah aku jumpai. Di luar sedang hujan deras. Saaangaaat deras. Beberapa waktu kemudian ada yang menyampaikan ke saya bahwa ayah saya mencari saya. Beliau berada di luar rumah, menunggu saya. Info tersebut kutanggapi dengan cuek aja. Males ah...ngapain juga kudu keluar nemuin itu orang. Waktu pun berlalu, hujan semakin deras. Terlihat ayah saya sampai nglesot (bhs. Jawa, kira-kira artinya sama dengan duduk di lantai tanpa alas) di teras, dan sempat tidur di teras juga dengan kondisi hujan yang sangat deras. Saking derasnya, teras pun basah kuyub. Dan beliau menunggu. Tidak peduli kondisinya bagaimana, tetap menungguku. Dan aku tidak peduli, bagaimanapun beliau menungguku, aku tidak peduli. Bagaimanapun orang-orang di sekitarku sudah mulai cerewet karena kasihan dengan kondisi beliau, aku pun tidak peduli. Oh...betapa jahatnya aku...

Sayup-sayup kudengar ada suara yang memanggil-manggil namaku.
“Ustadzah....Ustadzah....”

Kesadaranku pun mulai muncul kembali. Ah...ternyata aku hanya bermimpi. Namun kenapa rasanya mataku sembab dan hatiku terasa sedih sekali? Seperti baru menangis sesenggukan. Astaghfirullah...jahat sekali aku. Alhamdulillah hanya mimpi. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku sudah mulai mengikhlaskan apa yang pernah terjadi pada hidupku. Dan sepertinya tidak mungkin aku sejahat itu. Meskipun memendam kekecewaan yang amat dalam sekalipun, selama ini aku menjawab telepon beliau dengan santun. Meskipun dalam waktu yang bersamaan hati berkecamuk tidak karuan. Meskipun hanya topeng. Tapi in sha Allah, mulai saat ini saya bertekad untuk memperbaikinya, untuk memaafkan semua yang pernah menjadi kesalahan beliau.

Segera saja aku melongok ke jendela. Kulihat anak-anak di bawah memanggil-manggilku.
“Ustadzah...Ustadzah...”

Oh, ternyata mereka baru selesai rapat OSIS. Jam menunjukkan baru pukul 22.00 WIB. Aku pun segera ke bawah untuk membukakan pintu asrama untuk anak-anakku.

No comments:

Post a Comment